Kamis, 29 Agustus 2013

cara membuat buku antologi puisi

dalam post blog pertama saya, saya akan membagi-bagi pelajaran tentang bagaimana cara membuat sebuah buku antologi puisi. hal pertama yang harus anda buat adalah cover buku tersebut. bila telah usai, buat lah kata pengantar, daftar isi pada bagian awal halaman. setelah itu langsung kepada isi dari buku  tersebut. dan jika anda ingin memberika beberapa warna dalam buku antologi anda, anda bisa menambahkan tentang orang yang menulis didalam buku tersebut.

berikut contoh buku antologi puisi  yang telah saya buat bersama dengan teman sekelas saya:

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah Antologi Puisi.

Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah Antologi dengan judul "
Antologi Puisi”, yang menurut saya dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari dan sumber referensi.

Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi Antologi ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.

Dengan ini saya mempersembahkan Antologi puisi ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi Antologi Puisi ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Bekasi
, 28 April 2013

"Penulis"





Daftar Isi
Pembuka ……..…………………………………….............................
1
Kata Pengantar …………………………………………………………….
2
Daftar Isi ……………………………………………………………………..
3
Abang Zordan – Pusing ………………………………………………….
5
Adam Fauzan – Lapar .……………………………..……………………
6
Aditya Sulistianto – Sahabat ……………………………………..…..
7
Ahmad Rifal – Masa Yang Indah …………………………………..…
8
Alamsyah Aras – Dengan Puisi ……………………………………….
9
Anisa Printi – Alamku ..………………………………………………….
10
Annisa Nurmayra – Mimpi ..…………………………………………….
11
Bachtiar Yusuf – Haus……………………………………………………
12
Bima Wiratama – Bayangmu …………………..……………………...
13
Dena Indriawan – Bayangmu ………………………………………….
14
Diah Andini – Sahabat …………………………………………………...
15
Dimas Aji – Perang ………………………………………………………..
16
Farah Nabillah – Renungan Tahun Baru …………………………..
17
Fikri Muhammad – Kegagalan ………………………………………..
20
Laila Lutfiah – Sahabat Terbaikku ………………………………….
21
Hisyam Ritonga – Kaki Gunung ………………………………………
22
Muhammad Akbar – Tempatku Ingin Berada ……………………
23
Muhammad Dimas Firdaus – Ending ……………………………….
25
Rafi Ma’rifath – Panas ……………………………………………………
26
Nabila Ratri – Harapan ………………………………………………….
28
Nita Vania – Rindu ………………………………………………………..
29
Elzi Evrilya – Aneh………………………………………………………..
30
Rahmat Maftuh – Keterbatasan……………………………………..
31
Sagita Sahrunnisa – Aku………………………………………………..
32
Satria Ananda – Matahari………………………………………………
33
Vediana Aulia – Syukur………………………………………………….
34
Verina Rizki–Papah……………………………………………………..
35
Penutup ………………………………………………………………………..   37


PUISI
8 . 4







Bayangmu
Karya : Dena Indriawan

Entah berapa lama kita berpisah
Saling memendam perasaan yang besar
Bayangmu selalu ada di setiap hariku
Dan di setiap mimpiku..

Tetapi Bayangmu terlalu abu-abu
Terlalu samar bagiku untuk menggapai
Terlalu berkabut
Dan terlalu semu..

Di tengah ketidakpastian ini..
Akankah ada titik terang diantara kita..
Jalan untuk kembali bersama
Seperti cerita lama kita..
Yang sekarang tak bertuan mengikis hati


Sahabat
Karya : Diah Andini
Tiap waktu aku menanti
Kapan sahabatku kembali
Walau waktu selalu berganti
Kau masih belum kembali             

Walau aku bersama teman-temanku.
Hanya kaulah yang sangat kurindukan
Sejak kecil kau selalu menemaniku
Hingga terjalin tali persahabatan

Jika saat bertemu nanti
Kuharap kau tak lupa padaku
Karena aku sudah menanti
Kehadiranmu dihapadanku

Perang
Karya: Dimas Aji Prasetio
Perang...
Kau begitu kejam
Kau begitu sadis
Kau masih mendunia

Pulau, tanah...
Itulah yang engkau rebutkan
Perang...
Kau merebut semuanya

Perang...
Kau tak ada gunanya
Perang...
Hanya orang bodoh yang melakukannya

Perang...
Kau membunuh semuanya
Bermula dari rasa egois
Berujung kematian

Renungan Tahun Baru
Karya : Farah Nabillah

Tuhanku,
Demi kemuliaan-Mu
Tidak ada maksud menentang-Mu
Ketika aku bermaksiat...
Bukan pula maksudku mendurhakai-Mu
Ketika aku berbuat jahat...
Sebab aku tak mengetahui kedudukan-Mu
Sebab aku tidak mungkin bisa megelak dari azab-Mu
Aku bermaksiat semata-mata karena godaan jiwaku
Aku terdorong oleh kecelakaanku
Sebab aku terpedaya oleh tabir-Mu yang kau gerai dihadapanku
Akupun menjadi nekat dengan perbuatan bodohku


Lalu... siapa pula kini sanggup membebaskanku dari siksa-Mu
Jika kau putuskan tali tempat ku bergantung
Betapa buruknya aku bila kelask berdiri di hadapan-Mu
Kepada orang yang berat timbangannya kau berkata,
“Teruslah berlalu...”
Kepada orang yang ringan timbangannya kau berkata,
“Tunggu dulu!”
Akankah aku terus berlalu bersama orang yang berat timbangannya?
Atau haruskah aku berhenti bersama mereka yang ringan timbangannya?


Wahai, celakalah aku.........
Kian tua usiaku... Kian bertambah pula dosaku...
Hariku telah berganti minggu...........
Bulanu kini telah berganti tahun baru...
Namun, Ibadahku........
Shalatku..... Zakatku..... Puasaku..... Hajiku....
Infaq dan shadaqohku....... Jihadku......
Semuanya belum sempurna....


Wahaiii............
Celakalah aku..........
Kian panjang usiaku kian bertumpuk pula kesalahanku...
Sampai kapan kiranya aku bisa bertaubat?
Sampai kapan kiranya aku bisa kembali?
Bukankah kini telah tiba saatnya.........
Untuk menjumpai-Mu.....




















Tentang 84

Kelas 84, kelas yang notabene-nya kelas ter-strategis  di sekolah smpn5 (dekat dari kantin, dekat dari tangga, dekat dari kamar mandi, dekat dari lapangan, dekat dari perpustakaan, jauh dari ruang guru) ini menyimpan sejuta cerita. Kelas 84 yang memiliki nama kelas “AJAEEEB 84” tercipta begitu saja dari kata-kata mutiara mamat yaitu “AJAEB” ditulis dan terdengar dengan huruf “e” bukan “I”.

Termasuk kelas yang sering mengalami mati listrik, tetapi tak pernah mati arang untuk belajar dan pergi ke kantin. Kelas yang ramai dengan rumpi-rumpian dan gossip-gosip anak muda yang begitu asik dibicarakan begitu juga tema galau yang tak lepas dari pembicaraan. Kelas ini memiliki cita-cita tidak kehilangan bola plastik mereka yang selalu hilang/rusak tiap minggunya.

















Kepada pembaca,

Terima kasih sudah membaca buku puisi kelas 84. Kalau kamu menerima buku ini dalam keadaan cacat produksi (halaman kosong, halaman terbalik atau tidak berurutan) silahkan memaklumi hal tersebut.

Terima kasih telah setia membaca buku kami.

Salam,
AJAEEEB84





















Website         : www.ajaeebdelapanempat.com
Twitter          : @AJAEEEB84



1 komentar: